ILMU SOSIAL DASAR
”LONGSOR KARENA LAHAN TANDUS”
Disusun
Oleh :
NAMA
: Fakhri Ihsan Ramadhan
KELAS : 1ID05
NPM : 32416580
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
TEKNIK
INDUSTRI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2016
/ 2017
ILMU SOSIAL
DASAR
Ilmu
sosial dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk dalam MKDU (Mata
Kuliah Dasar Umum), dalam pembelajaran ISD (Ilmu Sosial dasar) ini bertujuan
untuk mengembangkan kepekaan masasiswa dalam masalah-masalah yang ada di
lingkungan sekitarnya, setia kawan, dan tanggung jawab sosial terhadap
penderitaan sesama melalui penguasaan pengetahuan dasar tentang aspek-aspek
kehidupan sosial masyarakat kita beserta masalah-masalahnya.
Salah satu mata kuliah yang diajarkan
pada perkuliahan seperti jurusan Teknik Industri ini, Ilmu Sosial Dasar
merupakan pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial yang terjadi di
lingkungan sekitar dengan menggunakan
pengamatan dan bukti nyata, konsep dan teori yang diperoleh dan di kembangkan
oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial.
Mata
kuliah Ilmu Sosial Dasar termasuk salah satu dari dua kelompok dalam kurikulum
inti MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), Ilmu Sosial Dasar ini termasuk kedalam
kelompok bersamaan dengan mata kuliah IBD (Ilmu Budaya Sosial), dan IAD (Ilmu
Alamiah Dasar) yang mata kuliahnya memiliki tujuan sebagai alat untuk
menyampaikan pengetahuan dasar dan mengembangkan cara pandang / wawasan yang
matang-seimbang mengenai lingkungan sosio-kultural-alamiah mahasiswa.
Untuk
mata kuliah kelompok seperti Pendidikan pancasila, Pendidikan Agama, PSPB
(Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), dan Pendidikan Kewiraan telah
ditetapkan pada seluruh Perguruan Tinggi Negeri
ataupun Perguruan Tinggi Swasta, namun untuk kelompok penyelenggaraan
MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), khususnya Ilmu Sosial Dasar masih beraneka ragam
polannya, baik dalam lingkungan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maupun PTS
(Perguruan Tinggi Swasta).
Menurut berbagai sumber yang cukup
kompeten, Ilmu Sosial Dasar pada hakikatnya bukanlah “ilmu pengetahuan” akan
tetapi dapat dikatakan dengan “usaha pendidikan” yang memanfaatkan fakta,
konsep-konsep dan teori-teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh berbagai
bidang pengetahuan dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti geografi sosial,
ilmu politik, psikologi sosial, sosiologi, ekonomi, ekonomi politik,
kependudukan, dan lainnya yang bertujuan untuk membina dan mendidik sehingga
memiliki kepribadian tertantu yang dinilai ideal.
Kepribadian
yang ideal yang dimaksudkan ialah peka terhadap masalah-masalah sosial, setia
kawan terhadap penderitaan sesama, rakyat, dan memiliki komitmen terhadap
usaha-usaha pembangunan masyarakatnya. Karena masalah-masalah sosial bersifat
kompleks yaitu mempunyai banyak segi yang bertali temali, padahal spesialisasi
anak didik bisa menimbulkan bahaya kesempitan pandang yang berat sebelah
sehingga kurang realistik.
Maka
menjadi tugas penting pendidikan Ilmu Sosial Dasar untuk melatih anak didik
untuk menerapkan cara pendekatan yang lebih konperhensif, matang dan seimbang
terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat berserta permasalahannya.
Tujuan
pembelajaran Ilmu Sosial Dasar adalah pengembangan pribadi dengan memanfaatkan
berbagai cabang ilmu sosial secara terpadu, sejauh dinilai menunjang pencapaian
tujuan.
Jadi fungsi utama pendidikan Ilmu Sosial
Dasar adalah memberikan pengetahuan dasar tentang kehidupan dengan keterampilan
untuk menemukan dan menilai secara seimbang masalah-masalah di dalamnya.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah taraf minimal yang diperlukan untuk titik
tolak bagi berkembangnya sikap-sikap sosial yang disebutkan diatas.
Ilmu Sosial Dasar diperuntukan untuk
menyelesaikan berbagai masalah pada akhirnya dimuat menjadi kurikulum bagi
mahasiswa dalam proses pembelajarannya. Hal ini dikarenakan beberapa sistem pendidikan tinggi hanya mementingkan
atau melihat aspek keterampilan saja dan dinilai kurang melihat perkembangan
masyarakat luar karena hanya terfokus pada bidang mahasiswanya masing-masing.
CONTOH MASALAH
ISD
HUTAN GUNDUL JADI PENYEBAB TANAH GERAK DAN LONGSOR DI PONOROGO
Di banyak negara di dunia yang daerahnya
bergunung gunung atau berbukit bukit seperti di Indonesia, Jepang, China,
Norwegia, Swiss, Yugoslavia dan lain-lainnya, longsoran sering terjadi dan
merupakan problem yang serius yang harus ditangani. Longsoran merupakan gerakan
massa (mass movement) tanah atau
batuan pada bidang longsor potensial.
Gerakan
massa umumnya disebabkan dari gerak tanah yang besar di sepanjang bidang
longsor kritisnya. Gerakan massa ini merupakan gerakan melorot ke bawah dari material
pembentuk lereng, yang dapat berupa tanah, batu tanah timbunan atau campuran
dari material lain. Bila gerakan massa tanah tersebut sangat berlebihan, maka
disebut tanah longsor (landslide).
Longsoran
ini merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda daerah perbukitan di
daerah tropis basah. Gerakan massa umumnya disebabkan oleh gaya-gaya gravitasi
dan kadang-kadang getaran atau gempa juga menyokong kejadian tersebut.
Gerakan
massa yang berupa tanah longsor terjadi akibat adanya keruntuhan geser
sepanjang bidang longsor yang merupakan batas bergeraknya massa tanah atau
batuan. Longsoran umumnya dianggap terjadi saat tegangan geser rata-rata di
sepanjang bidang longsor sama dengan kuat heser tanah atau batuan yang dapat
ditentukan dari uji laboraturium atau uji lapangan.
Akan
tetapi, saat terjadi keruntuhan bertahap, longsoran tanah terjadi pada tegangan
geser yang kurang dari kuat geser puncaknya. Keruntuhan bertahap umumnya
diikuti dengan distribusi tegangan tidak seragam di sepanjang bidang longsor,
pada tanah atau batuan berlapis, ketika bidang longsornya memotong material
yang berbeda siat regangan-regangannya.
Kerusakan
yang ditimbulkan oleh gerakan massa tidak hanya besiat langsung seperti
rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, ataupun adanya korban manusia, akan
tetapi juga merupakan kerusakan yang bersifat tidak langsung yang melumpuhkan
kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya.
Pada umumnya, bencana
alam gerakan massa tersebut cenderung semakin meningkat seiring dengan meningkatnya
aktivitas manusia. Penyebab longsor itu berbagai macam dan banyak faktor,
seperti kondisi-kondisi geologi dan hidrologi, topografi, iklim, perubahan
cuaca, dan penyebab lain adalah akibat kurang terjaganya ekosistem dan
lingkungan tempat tersebut karena oleh perbuatan manusia yang bersifat negatif
/ merusak lingkungan.
Beberapa sebab-sebab alami yang
mengganggu kestabilan lerang, contohnya yaitu:
-
Pelapukan
-
Hujan lebat
-
Hujan tidak
begitu lebat tapi berkepanjangan
-
Adanya lapisan
lunak
-
Getaran atau
gempa bumi
-
Beban dinamis
oleh tumbuhan-tumbuhan yang tertiup angin
Beberapa sebab-sebab yang terkait dengan
aktifitas manusia, contohnya yaitu :
-
Penggalian kaki
lereng
-
Pembangunan di
permukiman lereng
-
Penambahan beban
pada lereng, tambahan beban lereng dapat berupa bangunan baru, tambahan beban
oleh air yang masuk ke pori-pori tanah maupun yang menggenang di permukaan
tanah
-
Penggalian atau
pemotongan tanah pada kaki lereng yang menyababkan tinggi lereng bertambah
-
Penggalian yang
mempertajam kemiringan lereng tersebut
-
Perubahan posisi
muka air secara cepat (rapid drawdown)
(pada bendungan, sungai, dan lain-lain)
-
Kenaikan tekanan
lateral oleh air (air yang mengisi retakan mendorong tanah ke arah lateral)
-
Penurunan
tahanan geser tanah pembentuk lereng oleh akibat kenaikan kadar air, kenaikan
tekanan air pori, takanan rembesan oleh genangan air di dalam tanah, tanah pada
lereng mengandung lempung yang mudah kembang susut, dan lain-lain.
Pada
saat ini banyak kejadian tanah longsor disebabkan oleh meningkatnya jumlah
penduduk dan aktivitas pembangunan di daerah pegungungan. Beberapa kejadian
longsoran dalam skala kecil maupun skala besar sering terjadi karena hujan
deras, lelehnya salju, serta karena aktifitas manusia. Selain itu, beberapa
kejadian longsoran diakibatkan oleh gempa.
Banyak kejadian
longsoran disebabkan oleh penggalian lereng untuk pembangunan jalan raya, jalan
rel, perumahan penggalian dasar sungai (diambil pasir atau batunya), dan
longsoran juda sering terjadi pada galian tempat pengambilan tanah dan galian
tambang.
Bangunan berat
yang didirikan di puncak lereng juga dapat menyababkan longsoran. Longsoran
juga dapat terjadi di daerah longsoran lama dengan hanya disebabkan oleh
gangguan kecil stabilitas lerengnya.
Longsoran pada
lereng tanah berlempung sering disebabkan erosi atau penggalian tanah di bagian
kaki gunung / bukit / lereng oleh akibat aliran air sungai. Erosi dasar sungai
di kaki lereng menyebabkan kemiringan
lereng menjadi lebih besar dan tinggi lereng menjadi bertambah, akibatnya
lereng menjadi tidak stabil.
Pada kondisi
tertentu, penggalian tanah juga dapat mengakibatkan longsornya lereng galian.
Penggalian tanah mengutangi tekanan overbuden,
sehingga tanah atau batuan mengembang dan kuat gesernya turun.
Pemancangan
tiang di dekat lereng gunung mengakibatkan kenaikan tekanan air pori, sehingga
mengurangi tahanan geser tanah rata- rata. Hal ini juga dapat mengakibatkan
longsornya lereng yang terdiri dari lempung sensitif lunak. Kecuali itu,
perpindahan tanah terlalu besar secara lateral saat pemancangan tiang juga
dapat berakibat terlampauinya regangan untuk mobilisasi kuat geser maksimum
tanahnya.
Berikut
Ini Adalah Salah Satu Contoh Berita :
PONOROGO, Kompas – “Hutan gundul, alih
fungsi hutan dan banyaknya penebangan pohon di lereng dan perbukitan menjadi
salah saru faktor utama bencana longsor dan tanah bergerak di ponorogo”, kata
Kepala Tim Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan
Geologi Kementrian Energi Sumber Daya Mineral, Henry Purnomo, Selasa
(10/1/2017)
ini merupakan kutipan salah satu berita
mengenai longsor yang terjadi di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten
Ponorogo pada hari selasa 10 januari 2017.
Di dalam kutipan tersebut diberitahukan
bahwa terjadinya benana longsor yang menimpa daerah Ponorogo itu murni terjadi
karena kesalahan manusia (Human Error)
dan kondisi struktur tanah yang gembur dan curah hujan yang tinggi.
Menurut salah satu narasumber yaitu
Bapak Henry Purnomo selaku Kepala Tim Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan penyebab terjadinya bencana longsor dan
tanah bergerak itu faktor utamanya adalah pengalih fungsian lahan hijau.
Kejadian itu terjadi disebabkan karena
alasan kebutuhan yang semakin meningkat dalam kehidupan dan ditambah pula
karena adanya peluang bisnis dengan memanfaatkan lahan hijau untuk dialih
fungsikan menjadi permukiman warga sekitar.
Selain itu penyebab terjadinya bencana
longsor ini adalah pemanfaatan hasil hutan khusunya pohon, adanya lahan
pertanian dan lahan perkebunan yang ada di daerah Ponorogo yang tidak
terkontrol batasannya dalam memanfaatkan lahan hijau.
Kebutuhan itu nyatanya tidak dibarengi
dengan mementingkan lingkungan di sekitarnya dan lebih parahnya lagi lahan
hijau itu menjadi dialih fungsikan oleh masyarakat sekitar.
Lahan hijau yang memiliki akar kuat
tersebut perlahan-lahan dibabat / di gundulkan oleh warga di beberapa desa.
Kondisi inilah yang sering memicu terjadinya bencana longsor dan lahan yang bergerak
yang terjadi di desa tersebut. Apalagi pohon tersebut sangatlah penting untuk
terhindar dari ancaman longsor dan tanah bergerak karena pohon dengan akarnya
akan mencengkram tanah dan menyimpan air saat hujan mengguyur.
Menurut sumber yang terdapat dari berita
selain hutan gundul, penyebab bencana tanah longsor atau tanah bergerak di
Ponorogo karena sifat tanah yang gembur dan tingkat intensitas hujan yangukup
tinggi.
Sementara ini masyarakat desa Tugurejo
diberitahukan oleh badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
untuk mengungsi terlebih dahulu disebabkan karena ancaman bencana longsor dan
tanah bergerak berdampak semakin parah karena sudah buruknya kerusakan yang
terjadi.
Dari peristiwa diatas dapat saya
simpulkan bahwa seharusnya, warga sekitar yang bermukim di sekitar daerah itu
harus sudah memikirkan efek samping dari pemanfaatan lahan hijau yang
berlebihan dan sudah memikirkan bagaimana cara menaggulangi atau mengurangi
penyebab dari terjadinya tanah longsor dan tanah bergerak.
Sudah banyak sekali lahan tandus yang
ada di Indonesia ini karena maraknya penebangan secara ilegal yang melanggar
hukum karena untuk kebutuhan bisnis atau kebutuhan pribadi.
Beberapa cara untuk menhindari dari
bencana tanah longsor dan tanah bergerak yang dapat dilakukan dengan cara :
·
bergotong royong
yaitu dengan membuat permukaan lereng yang sering terkikis air hujan atau
dengan permukaan yang sangat miring agar dibuat dengan bentuk terasering, yaitu
perbaikan pada lahan lereng yang terjal agar tidak mudah terkikis air.
·
Memperbanyak penanaman
pohon di lahan tandus atau kurang pohon
Tidak hanya untuk masyarakat daerah
Ponorogo saja yang harus menjaga lingkungannya, akan tetapi untuk seluruh
masyarakat Indonesia yang khususnya tinggal di tempat yang masih memiliki
wilayah hijau untuk tetap melestarikannya dengan baik sehingga tidak terjadi
kerusakan.
Dan terhadap peristiwa tersebut,
pemerintah diharapkan warga setempat untuk segera menghijaukan kembali dengan
pohon-pohon keras seperti pohon jati, durian, nangka. Karena dengan akar pohon
ini yang keras dapat mengikat tanah sehingga meminimalisasi tanah longsor dan
tanah gerak.
Sudah banyak oknum penebangan ilegal dan
pengalihan fungsi lahan hijau yang tentunya sulit diketahui karena memang
bersifat ilegal atau tidak memiliki izin dalam mengelola lahan hijau yang ada,
banyak sekali faktor negatif yang didapat karena adanya penebangan ilegal dan
pengalihan fungsi lahan ini, diantaranya :
·
Kualitas udara
menjadi jelek karena kurangnya oksigen yang diproduksi oleh pohon
·
Suhu udara yang
semakin lama semakin meninggi dikarenakan kurangnya pohon
·
Kekeringan terjadi
dimana-mana, bukan hanya tanah yang mengalami kekeringan atau tandus, tetapi
manusia itu sendiri yang merasakan seperti berkurangnya volume mata air yang
disebabkan tertutupnya permukaan tanah oleh bangunan atau gedung-gedung
·
Merusak habitat
asli beberapa binatang karena pengalih fungsi an lahan, hal ini dapat merusak
populasi binatang yang disebut kepunahan karena tidak dapat beradaptasi dengan
lingkungan yang berbeda
PROBLEM SOLVING
Perbaikan
stabilitas lereng pada umumnya dilakukan untuk mereduksi gaya-gaya yang menggerakan,
menambah tahanan geser tanah atau keduanya. Selain daripada perbaikan permukaan
ada pula perbaikan dalam masyarakat untuk meminimalisir bencana tanah longsor
dan tanah bergerak tidak terjadi lagi.
Hal ini dapat
direduksi dengan cara :
·
Menyadarkan
kepada masyarakat terhadap pentingnya untuk selalu menjaga lahan hijau karena
sangat bermanfaat
·
Memperketat
aturan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan lahan hijau,
hal ini dapat berpengaruh untuk dapat mempertahankan lahan hijau
·
Menindak tegas
pelaku atau oknum yang menggunakan atau memanfaatkan lahan hijau dengan
sembarangan
·
Menambah wawasan
terhadap masyarakat agar dapat menjaga dan merawat lingkungannya agar tidak
rusak
·
Melakukan pemilihan
dan pembatasan lahan yang benar untuk dijadikan alih fungsi sebagai permukiman
misalnnya
·
Memperhatikan tata
ruang wilayah untuk menghindari dari daerah rawan longsor
DAFTAR
PUSTAKA
Drs.
A.W. Widjaja : Ilmu Sosial Dasar,
Pen.aksdemika. Prasindo C.V., Jakarta, edisi 1, cetakan 1, 1986, hlm. 31
Cf.
Mis. Drs. A.W. Widjaja: op.cit., hlm. 66.
Hardiyatmo,
Hary Christady. 2012. Tanah Longsor &
Erosi. Yogyakarta : Gadjah Mada Uniersity Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar