Senin, 20 Maret 2017

ILMU SOSIAL DASAR (LONGSOR AKIBAT LAHAN TANDUS)

ILMU SOSIAL DASAR
”LONGSOR KARENA LAHAN TANDUS”

Disusun Oleh :
NAMA     : Fakhri Ihsan Ramadhan
KELAS    : 1ID05
NPM         : 32416580

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016 / 2017
ILMU SOSIAL DASAR
            Ilmu sosial dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk dalam MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), dalam pembelajaran ISD (Ilmu Sosial dasar) ini bertujuan untuk mengembangkan kepekaan masasiswa dalam masalah-masalah yang ada di lingkungan sekitarnya, setia kawan, dan tanggung jawab sosial terhadap penderitaan sesama melalui penguasaan pengetahuan dasar tentang aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat kita beserta masalah-masalahnya.
Salah satu mata kuliah yang diajarkan pada perkuliahan seperti jurusan Teknik Industri ini, Ilmu Sosial Dasar merupakan pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitar dengan  menggunakan pengamatan dan bukti nyata, konsep dan teori yang diperoleh dan di kembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial.
            Mata kuliah Ilmu Sosial Dasar termasuk salah satu dari dua kelompok dalam kurikulum inti MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), Ilmu Sosial Dasar ini termasuk kedalam kelompok bersamaan dengan mata kuliah IBD (Ilmu Budaya Sosial), dan IAD (Ilmu Alamiah Dasar) yang mata kuliahnya memiliki tujuan sebagai alat untuk menyampaikan pengetahuan dasar dan mengembangkan cara pandang / wawasan yang matang-seimbang mengenai lingkungan sosio-kultural-alamiah mahasiswa.
            Untuk mata kuliah kelompok seperti Pendidikan pancasila, Pendidikan Agama, PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), dan Pendidikan Kewiraan telah ditetapkan pada seluruh Perguruan Tinggi Negeri  ataupun Perguruan Tinggi Swasta, namun untuk kelompok penyelenggaraan MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), khususnya Ilmu Sosial Dasar masih beraneka ragam polannya, baik dalam lingkungan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta).
Menurut berbagai sumber yang cukup kompeten, Ilmu Sosial Dasar pada hakikatnya bukanlah “ilmu pengetahuan” akan tetapi dapat dikatakan dengan “usaha pendidikan” yang memanfaatkan fakta, konsep-konsep dan teori-teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti geografi sosial, ilmu politik, psikologi sosial, sosiologi, ekonomi, ekonomi politik, kependudukan, dan lainnya yang bertujuan untuk membina dan mendidik sehingga memiliki kepribadian tertantu yang dinilai ideal.
            Kepribadian yang ideal yang dimaksudkan ialah peka terhadap masalah-masalah sosial, setia kawan terhadap penderitaan sesama, rakyat, dan memiliki komitmen terhadap usaha-usaha pembangunan masyarakatnya. Karena masalah-masalah sosial bersifat kompleks yaitu mempunyai banyak segi yang bertali temali, padahal spesialisasi anak didik bisa menimbulkan bahaya kesempitan pandang yang berat sebelah sehingga kurang realistik.
            Maka menjadi tugas penting pendidikan Ilmu Sosial Dasar untuk melatih anak didik untuk menerapkan cara pendekatan yang lebih konperhensif, matang dan seimbang terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat berserta permasalahannya.
            Tujuan pembelajaran Ilmu Sosial Dasar adalah pengembangan pribadi dengan memanfaatkan berbagai cabang ilmu sosial secara terpadu, sejauh dinilai menunjang pencapaian tujuan.
Jadi fungsi utama pendidikan Ilmu Sosial Dasar adalah memberikan pengetahuan dasar tentang kehidupan dengan keterampilan untuk menemukan dan menilai secara seimbang masalah-masalah di dalamnya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah taraf minimal yang diperlukan untuk titik tolak bagi berkembangnya sikap-sikap sosial yang disebutkan diatas.
Ilmu Sosial Dasar diperuntukan untuk menyelesaikan berbagai masalah pada akhirnya dimuat menjadi kurikulum bagi mahasiswa dalam proses pembelajarannya. Hal ini dikarenakan beberapa  sistem pendidikan tinggi hanya mementingkan atau melihat aspek keterampilan saja dan dinilai kurang melihat perkembangan masyarakat luar karena hanya terfokus pada bidang mahasiswanya masing-masing.
CONTOH MASALAH ISD
HUTAN GUNDUL JADI PENYEBAB TANAH GERAK DAN LONGSOR DI PONOROGO
Di banyak negara di dunia yang daerahnya bergunung gunung atau berbukit bukit seperti di Indonesia, Jepang, China, Norwegia, Swiss, Yugoslavia dan lain-lainnya, longsoran sering terjadi dan merupakan problem yang serius yang harus ditangani. Longsoran merupakan gerakan massa (mass movement) tanah atau batuan pada bidang longsor potensial.
            Gerakan massa umumnya disebabkan dari gerak tanah yang besar di sepanjang bidang longsor kritisnya. Gerakan massa ini merupakan gerakan melorot ke bawah dari material pembentuk lereng, yang dapat berupa tanah, batu tanah timbunan atau campuran dari material lain. Bila gerakan massa tanah tersebut sangat berlebihan, maka disebut tanah longsor (landslide).
            Longsoran ini merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda daerah perbukitan di daerah tropis basah. Gerakan massa umumnya disebabkan oleh gaya-gaya gravitasi dan kadang-kadang getaran atau gempa juga menyokong kejadian tersebut.
            Gerakan massa yang berupa tanah longsor terjadi akibat adanya keruntuhan geser sepanjang bidang longsor yang merupakan batas bergeraknya massa tanah atau batuan. Longsoran umumnya dianggap terjadi saat tegangan geser rata-rata di sepanjang bidang longsor sama dengan kuat heser tanah atau batuan yang dapat ditentukan dari uji laboraturium atau uji lapangan.
            Akan tetapi, saat terjadi keruntuhan bertahap, longsoran tanah terjadi pada tegangan geser yang kurang dari kuat geser puncaknya. Keruntuhan bertahap umumnya diikuti dengan distribusi tegangan tidak seragam di sepanjang bidang longsor, pada tanah atau batuan berlapis, ketika bidang longsornya memotong material yang berbeda siat regangan-regangannya.
            Kerusakan yang ditimbulkan oleh gerakan massa tidak hanya besiat langsung seperti rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, ataupun adanya korban manusia, akan tetapi juga merupakan kerusakan yang bersifat tidak langsung yang melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya.
Pada umumnya, bencana alam gerakan massa tersebut cenderung semakin meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia. Penyebab longsor itu berbagai macam dan banyak faktor, seperti kondisi-kondisi geologi dan hidrologi, topografi, iklim, perubahan cuaca, dan penyebab lain adalah akibat kurang terjaganya ekosistem dan lingkungan tempat tersebut karena oleh perbuatan manusia yang bersifat negatif / merusak lingkungan.
Beberapa sebab-sebab alami yang mengganggu kestabilan lerang, contohnya yaitu:
-          Pelapukan
-          Hujan lebat
-          Hujan tidak begitu lebat tapi berkepanjangan
-          Adanya lapisan lunak
-          Getaran atau gempa bumi
-          Beban dinamis oleh tumbuhan-tumbuhan yang tertiup angin

Beberapa sebab-sebab yang terkait dengan aktifitas manusia, contohnya yaitu :
-          Penggalian kaki lereng
-          Pembangunan di permukiman lereng
-          Penambahan beban pada lereng, tambahan beban lereng dapat berupa bangunan baru, tambahan beban oleh air yang masuk ke pori-pori tanah maupun yang menggenang di permukaan tanah
-          Penggalian atau pemotongan tanah pada kaki lereng yang menyababkan tinggi lereng bertambah
-          Penggalian yang mempertajam kemiringan lereng tersebut
-          Perubahan posisi muka air secara cepat (rapid drawdown) (pada bendungan, sungai, dan lain-lain)
-          Kenaikan tekanan lateral oleh air (air yang mengisi retakan mendorong tanah ke arah lateral)
-          Penurunan tahanan geser tanah pembentuk lereng oleh akibat kenaikan kadar air, kenaikan tekanan air pori, takanan rembesan oleh genangan air di dalam tanah, tanah pada lereng mengandung lempung yang mudah kembang susut, dan lain-lain.

            Pada saat ini banyak kejadian tanah longsor disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di daerah pegungungan. Beberapa kejadian longsoran dalam skala kecil maupun skala besar sering terjadi karena hujan deras, lelehnya salju, serta karena aktifitas manusia. Selain itu, beberapa kejadian longsoran diakibatkan oleh gempa.
Banyak kejadian longsoran disebabkan oleh penggalian lereng untuk pembangunan jalan raya, jalan rel, perumahan penggalian dasar sungai (diambil pasir atau batunya), dan longsoran juda sering terjadi pada galian tempat pengambilan tanah dan galian tambang.
Bangunan berat yang didirikan di puncak lereng juga dapat menyababkan longsoran. Longsoran juga dapat terjadi di daerah longsoran lama dengan hanya disebabkan oleh gangguan kecil stabilitas lerengnya.
Longsoran pada lereng tanah berlempung sering disebabkan erosi atau penggalian tanah di bagian kaki gunung / bukit / lereng oleh akibat aliran air sungai. Erosi dasar sungai di kaki lereng menyebabkan  kemiringan lereng menjadi lebih besar dan tinggi lereng menjadi bertambah, akibatnya lereng menjadi tidak stabil.
Pada kondisi tertentu, penggalian tanah juga dapat mengakibatkan longsornya lereng galian. Penggalian tanah mengutangi tekanan overbuden, sehingga tanah atau batuan mengembang dan kuat gesernya turun.
Pemancangan tiang di dekat lereng gunung mengakibatkan kenaikan tekanan air pori, sehingga mengurangi tahanan geser tanah rata- rata. Hal ini juga dapat mengakibatkan longsornya lereng yang terdiri dari lempung sensitif lunak. Kecuali itu, perpindahan tanah terlalu besar secara lateral saat pemancangan tiang juga dapat berakibat terlampauinya regangan untuk mobilisasi kuat geser maksimum tanahnya.
Berikut Ini Adalah Salah Satu Contoh Berita :
PONOROGO, Kompas – “Hutan gundul, alih fungsi hutan dan banyaknya penebangan pohon di lereng dan perbukitan menjadi salah saru faktor utama bencana longsor dan tanah bergerak di ponorogo”, kata Kepala Tim Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementrian Energi Sumber Daya Mineral, Henry Purnomo, Selasa (10/1/2017)
ini merupakan kutipan salah satu berita mengenai longsor yang terjadi di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo pada hari selasa 10 januari 2017.
Di dalam kutipan tersebut diberitahukan bahwa terjadinya benana longsor yang menimpa daerah Ponorogo itu murni terjadi karena kesalahan manusia (Human Error) dan kondisi struktur tanah yang gembur dan curah hujan yang tinggi.
Menurut salah satu narasumber yaitu Bapak Henry Purnomo selaku Kepala Tim Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan penyebab terjadinya bencana longsor dan tanah bergerak itu faktor utamanya adalah pengalih fungsian lahan hijau.

Kejadian itu terjadi disebabkan karena alasan kebutuhan yang semakin meningkat dalam kehidupan dan ditambah pula karena adanya peluang bisnis dengan memanfaatkan lahan hijau untuk dialih fungsikan menjadi permukiman warga sekitar.
Selain itu penyebab terjadinya bencana longsor ini adalah pemanfaatan hasil hutan khusunya pohon, adanya lahan pertanian dan lahan perkebunan yang ada di daerah Ponorogo yang tidak terkontrol batasannya dalam memanfaatkan lahan hijau.
Kebutuhan itu nyatanya tidak dibarengi dengan mementingkan lingkungan di sekitarnya dan lebih parahnya lagi lahan hijau itu menjadi dialih fungsikan oleh masyarakat sekitar.
Lahan hijau yang memiliki akar kuat tersebut perlahan-lahan dibabat / di gundulkan oleh warga di beberapa desa. Kondisi inilah yang sering memicu terjadinya bencana longsor dan lahan yang bergerak yang terjadi di desa tersebut. Apalagi pohon tersebut sangatlah penting untuk terhindar dari ancaman longsor dan tanah bergerak karena pohon dengan akarnya akan mencengkram tanah dan menyimpan air saat hujan mengguyur.
Menurut sumber yang terdapat dari berita selain hutan gundul, penyebab bencana tanah longsor atau tanah bergerak di Ponorogo karena sifat tanah yang gembur dan tingkat intensitas hujan yangukup tinggi.
Sementara ini masyarakat desa Tugurejo diberitahukan oleh badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk mengungsi terlebih dahulu disebabkan karena ancaman bencana longsor dan tanah bergerak berdampak semakin parah karena sudah buruknya kerusakan yang terjadi.
Dari peristiwa diatas dapat saya simpulkan bahwa seharusnya, warga sekitar yang bermukim di sekitar daerah itu harus sudah memikirkan efek samping dari pemanfaatan lahan hijau yang berlebihan dan sudah memikirkan bagaimana cara menaggulangi atau mengurangi penyebab dari terjadinya tanah longsor dan tanah bergerak.
Sudah banyak sekali lahan tandus yang ada di Indonesia ini karena maraknya penebangan secara ilegal yang melanggar hukum karena untuk kebutuhan bisnis atau kebutuhan pribadi.
Beberapa cara untuk menhindari dari bencana tanah longsor dan tanah bergerak yang dapat dilakukan dengan cara :
·         bergotong royong yaitu dengan membuat permukaan lereng yang sering terkikis air hujan atau dengan permukaan yang sangat miring agar dibuat dengan bentuk terasering, yaitu perbaikan pada lahan lereng yang terjal agar tidak mudah terkikis air.
·         Memperbanyak penanaman pohon di lahan tandus atau kurang pohon
Tidak hanya untuk masyarakat daerah Ponorogo saja yang harus menjaga lingkungannya, akan tetapi untuk seluruh masyarakat Indonesia yang khususnya tinggal di tempat yang masih memiliki wilayah hijau untuk tetap melestarikannya dengan baik sehingga tidak terjadi kerusakan.
Dan terhadap peristiwa tersebut, pemerintah diharapkan warga setempat untuk segera menghijaukan kembali dengan pohon-pohon keras seperti pohon jati, durian, nangka. Karena dengan akar pohon ini yang keras dapat mengikat tanah sehingga meminimalisasi tanah longsor dan tanah gerak.
Sudah banyak oknum penebangan ilegal dan pengalihan fungsi lahan hijau yang tentunya sulit diketahui karena memang bersifat ilegal atau tidak memiliki izin dalam mengelola lahan hijau yang ada, banyak sekali faktor negatif yang didapat karena adanya penebangan ilegal dan pengalihan fungsi lahan ini, diantaranya :

·         Kualitas udara menjadi jelek karena kurangnya oksigen yang diproduksi oleh pohon
·         Suhu udara yang semakin lama semakin meninggi dikarenakan kurangnya pohon
·         Kekeringan terjadi dimana-mana, bukan hanya tanah yang mengalami kekeringan atau tandus, tetapi manusia itu sendiri yang merasakan seperti berkurangnya volume mata air yang disebabkan tertutupnya permukaan tanah oleh bangunan atau gedung-gedung
·         Merusak habitat asli beberapa binatang karena pengalih fungsi an lahan, hal ini dapat merusak populasi binatang yang disebut kepunahan karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda













PROBLEM SOLVING
            Perbaikan stabilitas lereng pada umumnya dilakukan untuk mereduksi gaya-gaya yang menggerakan, menambah tahanan geser tanah atau keduanya. Selain daripada perbaikan permukaan ada pula perbaikan dalam masyarakat untuk meminimalisir bencana tanah longsor dan tanah bergerak tidak terjadi lagi.
 Hal ini dapat direduksi dengan cara :
·         Menyadarkan kepada masyarakat terhadap pentingnya untuk selalu menjaga lahan hijau karena sangat bermanfaat
·         Memperketat aturan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan lahan hijau, hal ini dapat berpengaruh untuk dapat mempertahankan lahan hijau
·         Menindak tegas pelaku atau oknum yang menggunakan atau memanfaatkan lahan hijau dengan sembarangan
·         Menambah wawasan terhadap masyarakat agar dapat menjaga dan merawat lingkungannya agar tidak rusak
·         Melakukan pemilihan dan pembatasan lahan yang benar untuk dijadikan alih fungsi sebagai permukiman misalnnya
·         Memperhatikan tata ruang wilayah untuk menghindari dari daerah rawan longsor

           






DAFTAR PUSTAKA

Drs. A.W. Widjaja : Ilmu Sosial Dasar, Pen.aksdemika. Prasindo C.V., Jakarta, edisi 1, cetakan 1, 1986, hlm. 31
Cf. Mis. Drs. A.W. Widjaja: op.cit., hlm. 66.

Hardiyatmo, Hary Christady. 2012. Tanah Longsor & Erosi. Yogyakarta : Gadjah Mada Uniersity Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar