Senin, 20 Maret 2017

ILMU SOSIAL DASAR (LONGSOR AKIBAT LAHAN TANDUS)

ILMU SOSIAL DASAR
”LONGSOR KARENA LAHAN TANDUS”

Disusun Oleh :
NAMA     : Fakhri Ihsan Ramadhan
KELAS    : 1ID05
NPM         : 32416580

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016 / 2017
ILMU SOSIAL DASAR
            Ilmu sosial dasar merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk dalam MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), dalam pembelajaran ISD (Ilmu Sosial dasar) ini bertujuan untuk mengembangkan kepekaan masasiswa dalam masalah-masalah yang ada di lingkungan sekitarnya, setia kawan, dan tanggung jawab sosial terhadap penderitaan sesama melalui penguasaan pengetahuan dasar tentang aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat kita beserta masalah-masalahnya.
Salah satu mata kuliah yang diajarkan pada perkuliahan seperti jurusan Teknik Industri ini, Ilmu Sosial Dasar merupakan pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitar dengan  menggunakan pengamatan dan bukti nyata, konsep dan teori yang diperoleh dan di kembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial.
            Mata kuliah Ilmu Sosial Dasar termasuk salah satu dari dua kelompok dalam kurikulum inti MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), Ilmu Sosial Dasar ini termasuk kedalam kelompok bersamaan dengan mata kuliah IBD (Ilmu Budaya Sosial), dan IAD (Ilmu Alamiah Dasar) yang mata kuliahnya memiliki tujuan sebagai alat untuk menyampaikan pengetahuan dasar dan mengembangkan cara pandang / wawasan yang matang-seimbang mengenai lingkungan sosio-kultural-alamiah mahasiswa.
            Untuk mata kuliah kelompok seperti Pendidikan pancasila, Pendidikan Agama, PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), dan Pendidikan Kewiraan telah ditetapkan pada seluruh Perguruan Tinggi Negeri  ataupun Perguruan Tinggi Swasta, namun untuk kelompok penyelenggaraan MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum), khususnya Ilmu Sosial Dasar masih beraneka ragam polannya, baik dalam lingkungan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta).
Menurut berbagai sumber yang cukup kompeten, Ilmu Sosial Dasar pada hakikatnya bukanlah “ilmu pengetahuan” akan tetapi dapat dikatakan dengan “usaha pendidikan” yang memanfaatkan fakta, konsep-konsep dan teori-teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti geografi sosial, ilmu politik, psikologi sosial, sosiologi, ekonomi, ekonomi politik, kependudukan, dan lainnya yang bertujuan untuk membina dan mendidik sehingga memiliki kepribadian tertantu yang dinilai ideal.
            Kepribadian yang ideal yang dimaksudkan ialah peka terhadap masalah-masalah sosial, setia kawan terhadap penderitaan sesama, rakyat, dan memiliki komitmen terhadap usaha-usaha pembangunan masyarakatnya. Karena masalah-masalah sosial bersifat kompleks yaitu mempunyai banyak segi yang bertali temali, padahal spesialisasi anak didik bisa menimbulkan bahaya kesempitan pandang yang berat sebelah sehingga kurang realistik.
            Maka menjadi tugas penting pendidikan Ilmu Sosial Dasar untuk melatih anak didik untuk menerapkan cara pendekatan yang lebih konperhensif, matang dan seimbang terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat berserta permasalahannya.
            Tujuan pembelajaran Ilmu Sosial Dasar adalah pengembangan pribadi dengan memanfaatkan berbagai cabang ilmu sosial secara terpadu, sejauh dinilai menunjang pencapaian tujuan.
Jadi fungsi utama pendidikan Ilmu Sosial Dasar adalah memberikan pengetahuan dasar tentang kehidupan dengan keterampilan untuk menemukan dan menilai secara seimbang masalah-masalah di dalamnya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah taraf minimal yang diperlukan untuk titik tolak bagi berkembangnya sikap-sikap sosial yang disebutkan diatas.
Ilmu Sosial Dasar diperuntukan untuk menyelesaikan berbagai masalah pada akhirnya dimuat menjadi kurikulum bagi mahasiswa dalam proses pembelajarannya. Hal ini dikarenakan beberapa  sistem pendidikan tinggi hanya mementingkan atau melihat aspek keterampilan saja dan dinilai kurang melihat perkembangan masyarakat luar karena hanya terfokus pada bidang mahasiswanya masing-masing.
CONTOH MASALAH ISD
HUTAN GUNDUL JADI PENYEBAB TANAH GERAK DAN LONGSOR DI PONOROGO
Di banyak negara di dunia yang daerahnya bergunung gunung atau berbukit bukit seperti di Indonesia, Jepang, China, Norwegia, Swiss, Yugoslavia dan lain-lainnya, longsoran sering terjadi dan merupakan problem yang serius yang harus ditangani. Longsoran merupakan gerakan massa (mass movement) tanah atau batuan pada bidang longsor potensial.
            Gerakan massa umumnya disebabkan dari gerak tanah yang besar di sepanjang bidang longsor kritisnya. Gerakan massa ini merupakan gerakan melorot ke bawah dari material pembentuk lereng, yang dapat berupa tanah, batu tanah timbunan atau campuran dari material lain. Bila gerakan massa tanah tersebut sangat berlebihan, maka disebut tanah longsor (landslide).
            Longsoran ini merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda daerah perbukitan di daerah tropis basah. Gerakan massa umumnya disebabkan oleh gaya-gaya gravitasi dan kadang-kadang getaran atau gempa juga menyokong kejadian tersebut.
            Gerakan massa yang berupa tanah longsor terjadi akibat adanya keruntuhan geser sepanjang bidang longsor yang merupakan batas bergeraknya massa tanah atau batuan. Longsoran umumnya dianggap terjadi saat tegangan geser rata-rata di sepanjang bidang longsor sama dengan kuat heser tanah atau batuan yang dapat ditentukan dari uji laboraturium atau uji lapangan.
            Akan tetapi, saat terjadi keruntuhan bertahap, longsoran tanah terjadi pada tegangan geser yang kurang dari kuat geser puncaknya. Keruntuhan bertahap umumnya diikuti dengan distribusi tegangan tidak seragam di sepanjang bidang longsor, pada tanah atau batuan berlapis, ketika bidang longsornya memotong material yang berbeda siat regangan-regangannya.
            Kerusakan yang ditimbulkan oleh gerakan massa tidak hanya besiat langsung seperti rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, ataupun adanya korban manusia, akan tetapi juga merupakan kerusakan yang bersifat tidak langsung yang melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya.
Pada umumnya, bencana alam gerakan massa tersebut cenderung semakin meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia. Penyebab longsor itu berbagai macam dan banyak faktor, seperti kondisi-kondisi geologi dan hidrologi, topografi, iklim, perubahan cuaca, dan penyebab lain adalah akibat kurang terjaganya ekosistem dan lingkungan tempat tersebut karena oleh perbuatan manusia yang bersifat negatif / merusak lingkungan.
Beberapa sebab-sebab alami yang mengganggu kestabilan lerang, contohnya yaitu:
-          Pelapukan
-          Hujan lebat
-          Hujan tidak begitu lebat tapi berkepanjangan
-          Adanya lapisan lunak
-          Getaran atau gempa bumi
-          Beban dinamis oleh tumbuhan-tumbuhan yang tertiup angin

Beberapa sebab-sebab yang terkait dengan aktifitas manusia, contohnya yaitu :
-          Penggalian kaki lereng
-          Pembangunan di permukiman lereng
-          Penambahan beban pada lereng, tambahan beban lereng dapat berupa bangunan baru, tambahan beban oleh air yang masuk ke pori-pori tanah maupun yang menggenang di permukaan tanah
-          Penggalian atau pemotongan tanah pada kaki lereng yang menyababkan tinggi lereng bertambah
-          Penggalian yang mempertajam kemiringan lereng tersebut
-          Perubahan posisi muka air secara cepat (rapid drawdown) (pada bendungan, sungai, dan lain-lain)
-          Kenaikan tekanan lateral oleh air (air yang mengisi retakan mendorong tanah ke arah lateral)
-          Penurunan tahanan geser tanah pembentuk lereng oleh akibat kenaikan kadar air, kenaikan tekanan air pori, takanan rembesan oleh genangan air di dalam tanah, tanah pada lereng mengandung lempung yang mudah kembang susut, dan lain-lain.

            Pada saat ini banyak kejadian tanah longsor disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di daerah pegungungan. Beberapa kejadian longsoran dalam skala kecil maupun skala besar sering terjadi karena hujan deras, lelehnya salju, serta karena aktifitas manusia. Selain itu, beberapa kejadian longsoran diakibatkan oleh gempa.
Banyak kejadian longsoran disebabkan oleh penggalian lereng untuk pembangunan jalan raya, jalan rel, perumahan penggalian dasar sungai (diambil pasir atau batunya), dan longsoran juda sering terjadi pada galian tempat pengambilan tanah dan galian tambang.
Bangunan berat yang didirikan di puncak lereng juga dapat menyababkan longsoran. Longsoran juga dapat terjadi di daerah longsoran lama dengan hanya disebabkan oleh gangguan kecil stabilitas lerengnya.
Longsoran pada lereng tanah berlempung sering disebabkan erosi atau penggalian tanah di bagian kaki gunung / bukit / lereng oleh akibat aliran air sungai. Erosi dasar sungai di kaki lereng menyebabkan  kemiringan lereng menjadi lebih besar dan tinggi lereng menjadi bertambah, akibatnya lereng menjadi tidak stabil.
Pada kondisi tertentu, penggalian tanah juga dapat mengakibatkan longsornya lereng galian. Penggalian tanah mengutangi tekanan overbuden, sehingga tanah atau batuan mengembang dan kuat gesernya turun.
Pemancangan tiang di dekat lereng gunung mengakibatkan kenaikan tekanan air pori, sehingga mengurangi tahanan geser tanah rata- rata. Hal ini juga dapat mengakibatkan longsornya lereng yang terdiri dari lempung sensitif lunak. Kecuali itu, perpindahan tanah terlalu besar secara lateral saat pemancangan tiang juga dapat berakibat terlampauinya regangan untuk mobilisasi kuat geser maksimum tanahnya.
Berikut Ini Adalah Salah Satu Contoh Berita :
PONOROGO, Kompas – “Hutan gundul, alih fungsi hutan dan banyaknya penebangan pohon di lereng dan perbukitan menjadi salah saru faktor utama bencana longsor dan tanah bergerak di ponorogo”, kata Kepala Tim Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementrian Energi Sumber Daya Mineral, Henry Purnomo, Selasa (10/1/2017)
ini merupakan kutipan salah satu berita mengenai longsor yang terjadi di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo pada hari selasa 10 januari 2017.
Di dalam kutipan tersebut diberitahukan bahwa terjadinya benana longsor yang menimpa daerah Ponorogo itu murni terjadi karena kesalahan manusia (Human Error) dan kondisi struktur tanah yang gembur dan curah hujan yang tinggi.
Menurut salah satu narasumber yaitu Bapak Henry Purnomo selaku Kepala Tim Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan penyebab terjadinya bencana longsor dan tanah bergerak itu faktor utamanya adalah pengalih fungsian lahan hijau.

Kejadian itu terjadi disebabkan karena alasan kebutuhan yang semakin meningkat dalam kehidupan dan ditambah pula karena adanya peluang bisnis dengan memanfaatkan lahan hijau untuk dialih fungsikan menjadi permukiman warga sekitar.
Selain itu penyebab terjadinya bencana longsor ini adalah pemanfaatan hasil hutan khusunya pohon, adanya lahan pertanian dan lahan perkebunan yang ada di daerah Ponorogo yang tidak terkontrol batasannya dalam memanfaatkan lahan hijau.
Kebutuhan itu nyatanya tidak dibarengi dengan mementingkan lingkungan di sekitarnya dan lebih parahnya lagi lahan hijau itu menjadi dialih fungsikan oleh masyarakat sekitar.
Lahan hijau yang memiliki akar kuat tersebut perlahan-lahan dibabat / di gundulkan oleh warga di beberapa desa. Kondisi inilah yang sering memicu terjadinya bencana longsor dan lahan yang bergerak yang terjadi di desa tersebut. Apalagi pohon tersebut sangatlah penting untuk terhindar dari ancaman longsor dan tanah bergerak karena pohon dengan akarnya akan mencengkram tanah dan menyimpan air saat hujan mengguyur.
Menurut sumber yang terdapat dari berita selain hutan gundul, penyebab bencana tanah longsor atau tanah bergerak di Ponorogo karena sifat tanah yang gembur dan tingkat intensitas hujan yangukup tinggi.
Sementara ini masyarakat desa Tugurejo diberitahukan oleh badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk mengungsi terlebih dahulu disebabkan karena ancaman bencana longsor dan tanah bergerak berdampak semakin parah karena sudah buruknya kerusakan yang terjadi.
Dari peristiwa diatas dapat saya simpulkan bahwa seharusnya, warga sekitar yang bermukim di sekitar daerah itu harus sudah memikirkan efek samping dari pemanfaatan lahan hijau yang berlebihan dan sudah memikirkan bagaimana cara menaggulangi atau mengurangi penyebab dari terjadinya tanah longsor dan tanah bergerak.
Sudah banyak sekali lahan tandus yang ada di Indonesia ini karena maraknya penebangan secara ilegal yang melanggar hukum karena untuk kebutuhan bisnis atau kebutuhan pribadi.
Beberapa cara untuk menhindari dari bencana tanah longsor dan tanah bergerak yang dapat dilakukan dengan cara :
·         bergotong royong yaitu dengan membuat permukaan lereng yang sering terkikis air hujan atau dengan permukaan yang sangat miring agar dibuat dengan bentuk terasering, yaitu perbaikan pada lahan lereng yang terjal agar tidak mudah terkikis air.
·         Memperbanyak penanaman pohon di lahan tandus atau kurang pohon
Tidak hanya untuk masyarakat daerah Ponorogo saja yang harus menjaga lingkungannya, akan tetapi untuk seluruh masyarakat Indonesia yang khususnya tinggal di tempat yang masih memiliki wilayah hijau untuk tetap melestarikannya dengan baik sehingga tidak terjadi kerusakan.
Dan terhadap peristiwa tersebut, pemerintah diharapkan warga setempat untuk segera menghijaukan kembali dengan pohon-pohon keras seperti pohon jati, durian, nangka. Karena dengan akar pohon ini yang keras dapat mengikat tanah sehingga meminimalisasi tanah longsor dan tanah gerak.
Sudah banyak oknum penebangan ilegal dan pengalihan fungsi lahan hijau yang tentunya sulit diketahui karena memang bersifat ilegal atau tidak memiliki izin dalam mengelola lahan hijau yang ada, banyak sekali faktor negatif yang didapat karena adanya penebangan ilegal dan pengalihan fungsi lahan ini, diantaranya :

·         Kualitas udara menjadi jelek karena kurangnya oksigen yang diproduksi oleh pohon
·         Suhu udara yang semakin lama semakin meninggi dikarenakan kurangnya pohon
·         Kekeringan terjadi dimana-mana, bukan hanya tanah yang mengalami kekeringan atau tandus, tetapi manusia itu sendiri yang merasakan seperti berkurangnya volume mata air yang disebabkan tertutupnya permukaan tanah oleh bangunan atau gedung-gedung
·         Merusak habitat asli beberapa binatang karena pengalih fungsi an lahan, hal ini dapat merusak populasi binatang yang disebut kepunahan karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda













PROBLEM SOLVING
            Perbaikan stabilitas lereng pada umumnya dilakukan untuk mereduksi gaya-gaya yang menggerakan, menambah tahanan geser tanah atau keduanya. Selain daripada perbaikan permukaan ada pula perbaikan dalam masyarakat untuk meminimalisir bencana tanah longsor dan tanah bergerak tidak terjadi lagi.
 Hal ini dapat direduksi dengan cara :
·         Menyadarkan kepada masyarakat terhadap pentingnya untuk selalu menjaga lahan hijau karena sangat bermanfaat
·         Memperketat aturan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan lahan hijau, hal ini dapat berpengaruh untuk dapat mempertahankan lahan hijau
·         Menindak tegas pelaku atau oknum yang menggunakan atau memanfaatkan lahan hijau dengan sembarangan
·         Menambah wawasan terhadap masyarakat agar dapat menjaga dan merawat lingkungannya agar tidak rusak
·         Melakukan pemilihan dan pembatasan lahan yang benar untuk dijadikan alih fungsi sebagai permukiman misalnnya
·         Memperhatikan tata ruang wilayah untuk menghindari dari daerah rawan longsor

           






DAFTAR PUSTAKA

Drs. A.W. Widjaja : Ilmu Sosial Dasar, Pen.aksdemika. Prasindo C.V., Jakarta, edisi 1, cetakan 1, 1986, hlm. 31
Cf. Mis. Drs. A.W. Widjaja: op.cit., hlm. 66.

Hardiyatmo, Hary Christady. 2012. Tanah Longsor & Erosi. Yogyakarta : Gadjah Mada Uniersity Press

Selasa, 14 Februari 2017

MAKALAH BUDAYA LOKAL DI INDONESIA



ILMU BUDAYA DASAR

(BUDAYA LOKAL DI INDONESIA )

MAKALAH




Disusun Oleh :

FAKHRI IHSAN RAMADHAN





FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA


2017








BAB 1
PENDAHULUAN


1. 1 Latar belakang :
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Terdiri dari ribuan gugusan pulau yang menyatakan dirinya adalah bangsa Indonesia. Tidak heran jika bangsa Indonesia memiliki banyak keanekaragaman suku dan budaya yang tertuang dalam slogan Bhineka Tunggal Ika dimana dengan berbagai macam keanekaragaman kekayaan dari adat-istiadat, suku, agama, lagu, kesenian, alat tradisional, makanan, minuman, cara hidup sampai budaya lokal yang berbeda-beda namun tetap mereka memiliki satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.

Budaya juga merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga serta perlu dilestarikan agar kebudayaan kita tidak hilang dan bisa menjadi warisan anak cucu kita kelak. Hal ini tentu menjadi tanggung jawab para generasi muda dan juga perlu dukungan dari berbagai pihak, karena ketahanan budaya merupakan salah satu Identitas suatu negara. Kebanggaan bangsa indonesia akan budaya yang beraneka ragam sekaligusmengundang tantangan bagi seluruh rakyat untuk mempertahankan budaya lokal agar tidak hilang ataupun dicuri oleh bangsa lain. Sudah banyak kasus bahwa budaya kita banyak yang dicuri karena ketidakpedulian paragenerasi penerus, dan ini merupakan pelajaran berharga karena Kebudayaan Bangsa Indonesia adalah harta yang mempunyai nilai yang cukup tinggi di mata masyarakat dunia.Dengan melestarikan budaya lokal kita bisa menjaga budaya bangsa dari pengaruh budaya asing, dan menjaga agar budaya kita tidak diakui oleh Negara lain.



1.2 Rumusan masalah
1. Apa yang di maksud dengan budaya lokal?
2. Jelaskan definisi konsep budaya lokal menurut para ahli ?
3. Jelaskan maca-macam budaya lokal di indonesia?
4. Jelaskan ciri-ciri budaya lokal?
5. Jelaskan hubungan antar budaya lokal di indonesia?
6. Jelaskan Pengaruh budaya lokal terhadap budaya asing di indonesia. ?
7. Jelaskan Peranan budaya lokal mendukung ketahanan budaya nasional?

1.3. Tujuan
1. Untuk Mengetahui pengertian budaya lokal
2. Untuk mengetahui konsep budaya lokal menurut para ahli
3. Untuk mengetahui macam-macam budaya lokal di indonesia
4. Untuk mengetahui ciri-ciri budaya lokal
5. Untuk mengetahui hubungan antar budaya lokal di indonesia
6. Untuk mengetahui pengaruh budaya lokal terhadap budaya asing di indonesia
7. Untuk mengetahui peranan budaya lokal mendukung ketahanan budaya nasional.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian budaya lokal
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya Lokal adalah budaya yang yang berkembang di daerah-daerah dan merupakan milik suku-suku bangsa di wilayah nusantara Indonesia. Budaya lokal hidup dan berkembang di masing-masing daerah/suku bangsa yang ada di seluruh Indonesia.


Budaya lokal  Indonesia terletak di wilayah yang menghampar dari ujung utara Pulau Weh sampai ke bagian timur di Merauke. Selain itu, Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan keragaman budaya yang dimilikinya. Oleh karena itu bangsa Indonesia disebut juga bangsa majemuk yang memiliki beragam budaya. Selain itu, Indonesia memiliki letak sangat strategis dan tanah yang subur dengan kekayaan alam melimpah ruah.

Wilayah Indonesia memiliki kondisi geografis dan iklim yang berbeda-beda. Misalnya, wilayah pesisir pantai Jawa yang beriklim tropis hingga wilayah pegunungan Jayawijaya di Provinsi Papua yang bersalju. Perbedaan iklim dan kondisi geografis tersebut berpengaruh terhadap kemajemukan budaya lokal di Indonesia.


Pada saat nenek moyang bangsa Indonesia datang secara bergelombang dari daerah Cina Selatan sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, keadaan geografis Indonesia yang luas tersebut telah memaksa nenek moyang bangsa Indonesia untuk menetap di daerah yang terpisah satu sama lain. Isolasi geografis tersebut mengakibatkan penduduk yang menempati setiap pulau di Nusantara tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa yang hidup terisolasi dari suku bangsa lainnya. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang disatukan oleh ikatan-ikatan emosional serta memandang diri mereka sebagai suatu kelompok masyarakat tersendiri. Selanjutnya, kelompok suku bangsa tersebut mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama dengan didukung oleh suatu kepercayaan yang berbentuk mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.


Kemajemukan budaya lokal di Indonesia tercermin dari keragaman budaya dan adat istiadat dalam masyarakat. Suku bangsa di Indonesia, seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Timor, Bali, Sasak, Papua, dan Maluku memiliki adat istiadat dan bahasa yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan alam lingkungannya. Keadaan geografis yang terisolir menyebabkan penduduk setiap pulau mengembangkan pola hidup dan adat istiadat yang berbeda-beda. Misalnya, perbedaan bahasa dan adat istiadat antara suku bangsa Gayo-Alas di daerah pegunungan Gayo-Alas dengan penduduk suku bangsa Aceh yang tinggal di pesisir pantai Aceh.



2.2 Definisi konsep budaya lokal menurut para ahli :
  • Irwan Abdullah mengakatan, definisi kebudayaan hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Misalnya, budaya Jawa yang merujuk pada suatu tradisi yang berkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis telah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Namun, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Hal itu dipengaruhi oleh faktor percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global sehingga tidak ada budaya local suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli.

  • Hildred Geertz mengatakan, dalam bukunya Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia, di Indonesia saat ini terdapat lebih 300 dari suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa yang berbeda dan memiliki karakteristik budaya lokal yang berbeda pula. Wilayah Indonesia memiliki kondisi geografis dan iklim yang berbeda-beda. Misalnya, wilayah pesisir pantai Jawa yang beriklim tropis hingga wilayah pegunungan Jayawijaya di Provinsi Papua yang bersalju Perbedaan iklim dan kondisi geografi tersebut berpengaruh terhadap kemajemukan budaya lokal  di Indonesia. Pada saat nenek moyang bangsa Indonesia datang secara bergelombang dari daerah Cina Selatan sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, keadaan geografis Indonesia yang luas tersebut telah memaksa nenek moyang bangsa Indonesia untuk menetap di daerah yang terpisah satu sama lain. Isolasi geografis tersebut mengakibatkan penduduk yang menempati setiap pulau di Nusantara tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa yang hidup terisolasi dari suku bangsa lainnya. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang disatukan oleh ikatan-ikatan emosional serta memandang diri mereka sebagai suatu kelompok masyarakat tersendiri. Selanjutnya, kelompok suku bangsa tersebut mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama dengan didukung oleh suatu kepercayaan yang berbentuk mitos-mitos yang hidup di dalam  masyarakat. Kemajemukan budaya lokal di Indonesia tercermin dari keragaman budaya dan adat istiadat dalam masyarakat. Suku bangsa di Indonesia, seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Timor, Bali, Sasak, Papua, dan Maluku memiliki adat istiadat dan bahasa yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan alam lingkungannya. Keadaan geografis yang terisolir menyebabkan penduduk setiap pulau mengembangkan pola hidup dan adat istiadat yang berbeda-beda.

  • Menurut Soekmono Mengatakan dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I, masyarakat awal pada zaman praaksara yang dating pertama kali di Kepulauan Indonesia adalah ras Austroloid sekitar 20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, disusul kedatangan ras Melanosoid Negroid sekitar 10.000 tahun lalu. Ras yang dating terakhir ke Indonesia adalah ras Melayu Mongoloid sekitar 2500 tahun SM pada zaman Neolithikum dan Logam. Ras Austroloid kemudian bermigrasi ke Australia dan sisanya hidup di di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Ras Melanesia Mongoloid berkembang di Maluku dan Papua, sedangkan ras Melayu Mongoloid menyebar di Indonesia bagian barat. Ras-ras tersebut tersebar dan membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia. Kondisi tersebut juga mendorong terjadinya kemajemukan budaya local berbagai suku bangsa di Indonesia.
  • James J. Fox mengatakan, di Indonesia terdapat sekitar 250 bahasa daerah, daerah hukum adat, aneka ragam kebiasaan, dan adat istiadat. Namun, semua bahasa daerah dan dialek itu sesungguhnya berasal dari sumber yang sama, yaitu bahasa dan budaya Melayu Austronesia. Di antara suku bangsa Indonesia yang banyak jumlahnya itu memiliki dasar persamaan sebagai berikut :

1.       Asas-asas yang sama dalam bentuk persekutuan masyarakat, seperti bentuk rumah dan adat perkawinan.
2.       Asas-asas persamaan dalam hukum adat.
3.       Persamaan kehidupan sosial yang berdasarkan asas kekeluargaan. 
4.   Asas-asas yang sama atas hak milik tanah.



1.3    Macam-macam budaya lokal di indonesia.
            Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multicultural karena masyarakatnya terdiri dari berbagai suku bangsa dengan budayanya masing-masing yang berbeda-beda. Oleh karena itu di Indonesia berkembang berbagai budaya local yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Budaya local itu merupakan unsure pembentuk budaya nasional. Sehingga keseluruhan budaya local yang berkembang di masyarakat Indonesia merupakan budaya nasional bangsa Indonesia.


Pada dasarnya ada banyak sekali contoh yang terbagi dalam beberapa kategori seperti kesenian daerah, kesenian rupa yang berbentuk rumah adat, seni berpakaian yang berwujud pakaian adat, dan lain-lain. Beberapa contoh yang masuk dalam kategori kesenian daerah adalah berupa tari-tarian. Beberapa tarian khusus tiap-tiap daerah adalah tari saman dari Aceh, tari tortor dari Sumatera Utara, tari reog dari Jawa Timur.

Ada pula tari serimpi yang masuk kedalam daerah Jawa Tengah, tari jaipong di daerah Jakarta, tari topeng dan merak di Jawa barat dan tari kecak maupun pendet di Bali. Tidak hanya dalam hal tarian saja, khasanah kebudayaan juga masuk pada ranah laguan atau nyanyian. Nyanyian khas seperti injit-injit semut, soleram, bubuy bulan, suwe ora jamu, maupun angin mamiri merupakan bentuk kebudayaan lokal yang menarik. Budaya Lokal seperti ini merupakan khasanah nusantara yang patut untuk terus dilestarikan.

Contoh budaya lokal lainnya adalah alat musik. Satu tali dengan nyanyian atau lagu daerah, alat musik yang dibawakan juga memiliki ciri khas yang mengeluarkan jenis suara yang unik dan berbeda. Alat-alat musik daerah ini memiliki keragaman suara yang sungguh indah dan menawan yang bahkan telah dikenal hingga keseluruh penjuru dunia. Hampir seluruh orang mengenal alat musik angklung yang mengeluarkan bunyi yang suara yang sangat indah.


Sebuah angklung yang mengalun merdu dengan gabungan alunan agklung-angklung lainnya mampu memberikan paduan musik yang sangat khas yang tidak dapat ditemukan di daerah lainnya selain di Indonesia. Selain alat musik, rumah adat semacam joglo juga turut menyumbangkan keragaman khasanah lokal nusantara. Tak ketinggalan adalah pakaian adat yang mencirikan suatu daerah. Beberapa pakaian adat yang terkenal luas hingga keluar benua adalah kebaya dengan paduan brokat dan batiknya.

1.4    Ciri budaya lokal
Ciri-ciri budaya lokal dapat dikenali dalam bentuk kelembagaan sosial yang dimiliki oleh suatu suku bangsa. Kelembagaan sosial merupakan ikatan sosial bersama di antara anggota masyarakat yang mengoordinasikan tindakan sosial bersama antara anggota masyarakat. Lembaga sosial memiliki orientasi perilaku sosial ke dalam yang sangat kuat. Hal itu ditunjukkan dengan orientasi untuk memenuhi kebutuhan anggota lembaga sosial tersebut. Dalam lembaga sosial, hubungan sosial di antara anggotanya sangat bersifat pribadi dan didasari oleh loyalitas yang tinggi terhadap pemimpin dan gengsi sosial yang dimiliki.

Bentuk kelembagaan sosial tersebut dapat dijumpai dalam sistem gotong royong di Jawa dan di dalam sistem banjar atau ikatan adat di Bali. Gotong royong merupakan ikatan hubungan tolong-menolong di antara masyarakat desa. Di daerah pedesaan pola hubungan gotong royong dapat terwujud dalam banyak aspek kehidupan. Kerja bakti, bersih desa, dan panen bersama merupakan beberapa contoh dari aktivitas gotong royong yang sampai sekarang masih dapat ditemukan di daerah pedesaan. Di dalam masyarakat Jawa, kebiasaan gotong royong terbagi dalam berbagai macam bentuk. Bentuk itu di antaranya berkaitan dengan upacara siklus hidup manusia, seperti perkawinan, kematian, dan panen yang dikemas dalam bentuk selamatan.

1.5    Hubungan antar budaya lokal di indonesia
Bangsa indonesia merupakan kesatuan dari bangsa yang majemuk, artinya bangsa indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan berbagai kebudayaan Menurut hasil penelitian van vollenhoven, aneka ragam suku bangsa yang bermukim diwilayah indonesia diklasifikasikan berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat yang meliputi 19 daerah, yaitu:
1.      Aceh
2.      Gayoh- alas dan batak, Nias dan batu
3.      Minang kabau dan mentawai
4.      Sumatera selatan dan enggano
5.      Melayu
6.      Bangka dan belitung
7.      Kalimantan
8    8.      Sangir talaut
9    9.      Gorontalo
    10.      Sulawesi selatan
    11.      Toroja
    12.      Tarnate
    13.      Ambon-maluku dan kepulauan barat daya
    14.      Irian
    15.      Timur
    16.      Bali dan lombok
    17.      Jawa tengah dan jawa timur
    18.      Surakarta dan jogjakarta
    19.      Jawa barat

·    1     .       Hubungan bahasa
Hubungan antar kebudayaan lokal, tercermin dalam bentuk persebaran bahasa daerah, sebagai bentuk persebaran unsur budaya lokal. Hal itu sebagai dampak interaksi sosial antara kelompok masyarakat yang berbeda kebudayaan.

Misalnya penduduk suku bangsa jawa yang tinggal berbatasan dengan wilayah suku bangsa sunda(jawa barat) antara lain cilacap dan brebes, memiliki ragam bahsa yang merupakan perpaduan antara bahasa jawa dan sunda. Demikian halnya penduduk suku bangsa jawa yang berbatasan dengan wilayah madura , memiliki ragam bahasa yang menunjukkan perpaduan antara bahasa jawa dan madura.

Perpaduan bahas tersebut tercermin dalam bentuk logat atau dialek. Dialek bahasa jawa penduduk brebes berbeda dengan dialek bahasa jawa penduduk semarang, berbeda dengan penduduk solo dan berbeda pula dengan penduduk surabaya, meskipun mereka sama-sama menggunakan bahasa jawa. Di era kehidupan sekarang ini, khususnya dikalangan remaja, pemakaian dialek bahasa betawi seperti gua (saya), lu(kamu), uda (sudah), bantuin dong (tolong dibantu).

2.      Hubungan sistem kesenian
Hubungan yang terjalin antar kebudayaan lokal dapat terlihat pada unsur kesenian. Jalinan interaksi sosial antar suku bangsa, bisa terjadi melalui kegiatan expansi, migrasi, maupun perdagangan. Misal perkembangan seni pertunjukan wayang, tidak hanya terbatas dilingkungan masyarakat jawa saja melainkan dapat dijumpai pada masyarakat sunda dan bali meskipun berbeda jenisnya. Demikian halnya dengan tari topeng. Perkembangan tari topeng dapat dijumpai dalam kebudayaan masyarakat betawi, sunda, jawa tengah, timur, dan bali.

3.      Hubungan sistem teknologi
Meningkatnya peradaban suatu suku bangsa sekaligus menandai proses perubahan kebudayaan lokal. Pola kehidupan masyarakat yang dinilai lebih maju berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat yang tingkat peradabanya masih sederhana. Melalui proses migrasi maupun interaksi perdagangan, telah terjadi saling mempengaruhi terhadap kebudayaan lokal. Misal kehidupan suku terasing yang hidup dipedalaman akhirnya akan mampu menyesuaikan dengan pola kehidupan masyarakat luar yang modern, setelah mereka membuka diri menjalin interaksi sosial dengan masyarakat luar. Dibidang tekhnologi penyesuaian tersebut dapat berupa alat rumah tangga dan pakaian.

1.6    Pengaruh budaya lokal terhadap budaya asing di indonesia.
Pengaruh budaya asing terjadi pertama kali saat suatu bangsa berinteraksi dengan bangsa lain misalnya: melalui perdagangan dan penjajahan. Dalam proses interaksi tersebut terjadi saling mempengaruhi unsur budaya antar bangsa. Pada awalnya perhatian para sarjana antropologi untuk memahami bagaimana unsur kebudayaan asing bisa masuk ke indonesia adalah melalui penelusuran sejarah mengenai kedatangan bangsa-bangsa asing ke indonesia yang bertujuan untuk melakukan kolonelisasi. Pada masa kolonial belanda diterapkan sistem administrasi, seperti kelurahan, desa, dan dusun yang sampai sekarang masih tetap berlaku.

1.7    Peranan budaya lokal mendukung ketahanan budaya nasional
Dalam menganalisa permasalahan budaya lokal yang harus ditingkatkan demi memperkokoh budaya nasional dapat menggunakan rumus SWOT sehingga kita dapat menganalisa dari semua sudut pandang agar dapat mengetahui apa saja kelemahan yang kita miliki sehingga kita dapat mencari jalan keluarnya, mempertahankan setiap kekuatan budaya lokal yang telah kita miliki, peluang yang ada yang dapat kita manfaatkan dan tantang-tantangan yang harus kita hadapi sehingga kita dapat mempersiapkan diri akan datangnya kemungkinan tentang yang menghadang.
a.       Kekuatan
Keberagaman budaya yang ada di indonesia sudah dikenal luas di seantero bumi ini dan seakan menjadi primadona diantara seluru kebudayaan yang ada. Kelebihan ini tentunyatelah membuat indonesia menjadi objek wisata penelitian maupun tempat untuk belajar dalam pengembangan ilmu budaya.
b.      Kelemahan
Seluruh dunia tahu betapa indonesia kaya dengan kebudayaan.mulai dari bahasa, tari-tarian sampai lagu.setiap daera di indonesia memiikinya dengan kehasan masing-masing namun, dengan hasana kebudayaan begitu luas bangsa indonesia ditantang. Pada era globalisasi kini nilai-nilai serta budaya dari luar dapat dengan mudah merasuk kerana kehidupan berbangsa indonesia.

c.       Peluang
Inisiatif dalam melakukan penetrasi penciptraan bangsa ini kedepannya akan sangat berpengaruh dalam perkembangan kemajuan budaya nasional di mata dunia, dimana hal ini akan memberikan dampak positif yang akan membuat indonesia menjadi salah satu pusat cagar budaya dunia.
d.      Tantangan
Di era globalisasi seperti sekarang ini sangat sulit untuk dapat melestarikan budaya nasional, dimana hal ini menjadi sebuah permasalahan yang amat sulitt untuk dicarikan jalan keluarnya. Tentu hal ini menjadi masalah yang amat besar bagi negara ini


                               
BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan

       Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak sekali kebudayaan, dan kebudayaan tersebut berbentuk kebudayaan lokal. Budaya asing yang terus masuk tanpa terbengdung ke Indonesia dapat mengikis ataupun melunturkan budaya lokal yang terdapat di Indonesia, sehingga upaya-upaya harus dilakukan dalam menanggulangi permasalahan tersebut sehingga budaya Indonesia dapat tetap ada. Berbagai cara dapat dilakukan dalam melestarikan budaya, namun yang paling penting yang harus pertama dimiliki adalah menumbuhkan kesadaran serta rasa memiliki akan budaya tersebut, sehingga dengan rasa memiliki serta mencintai budaya akan membuat orang mempelajarinya sehingga budaya akan tetap ada karena pewaris kebudayaan akan terus ada.

1.2   Kritik dan saran

Dalam makalah ini penulis menyarankan kepada pembaca agar dapat memahami cara menyusun materi pembelajaran dan metode pembelajaran bahasa arab sebagai bahasa asing, disini penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, dikarenakan penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan.